Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwqzYy37

WELCOME TO MY BLOG

Teknologi Penjernihan Minyak Goreng Kelapa Dengan Bahan Galian (Bentonit)


Bentonit merupakan salah satu bahan alternatif yang dapat dipergunakan untuk bahan penjernih (bleaching agent) minyak kelapa, dimana potensi industri ini sangat besar. Pemanfaatan bentonit ini akan memberikan nilai tambah yang cukup besar, dibandingkan jika dimanfaatkan hanya sebagai bahan pengganti batu bata atau batako.
Pengembangan usaha bahan galian industri yang berdaya saing kuat, sudah saatnya dikembangkan di propinsi-propinsi atau wilayah sesuai dengan potensi yang ada. Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh Departemen Perindustrian, jenis-jenis industri yang mengolah atau memanfaatkan sumber daya mineral non migas, khususnya bahan galian industri, merupakan jenis industri yang memiliki daya saing tinggi, andal dan mandiri bila dibina dan dikembangkan secara sungguh-sungguh, optimal dan terkoordinasi.
MANFAAT1. Meningkatkan nilai tambah dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam mineral berupa bentonit.
2. Meningkatkan kualitas fisik dan kimia minyak goreng kelapa yang dihasilkan oleh masyarakat.
3. Meningkatkan diversifikasi produk yang berasal dari bahan galian industri penjernih minyak goreng.
4. Meningkatkan produktifitas UKMK yang memanfaatkan bahan galian industri sebagai bahan baku dan bahan penunjang kegiatan produksi.
5. Meningkatkan nilai tambah produk yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan masyarakat.
BAHAN1. Minyak Goreng Kresengan
2. Bentonit teraktivasi
3. Soda Api Teknis (NaOh)
4. Air
CARA PENGOLAHAN1. Bahan baku bentonit alam dikeringkan dengan cara dijemur untuk mengurangi kandungan airnya.
2. Proses pemecahan dan penggerusan dimana bentonit dipecah menjadi dua ukuran, masing-masing sebesar biji kacang tanah dan setengah dari ukuran biji kacang tanah. Hasil pecahan bentonit dicuci sampai bersih, lalu dikeringkan (dijemur atau di oven).
3. Bentonit kering masing-masing dimasukkan ke dalam tabung penyaring (1) untuk ukuran besar dan tabung penyaring (2) untuk ukuran kecil, dengan jumlah masing-masing sebanyak ½ kg (dapat digunakan untuk 20 liter minyak goreng).
4. Masukkan minyak goreng ke dalam tabung penyaring (1), tahan beberapa menit, buka kran dan dialirkan ke tabung penyaring(2), tahan beberapa menit, lalu ditampung di ember. Lakukan proses ini 3 kali.
5. Minyak yang sudah disaring, dicampur dengan larutan soda api (1 sendok the soda api ditambah 1 l air) dengan perbandingan 2 :1 ( 2 bagian minyak, 1 bagian larutan soda api). Aduk sampai merata sampai cairan agak mengental berwarna keputih-putihan.
6. Campuran (e) dimasukkan ke dalam tabung pemisah sabun (3), biarkan beberapa menit sampai air berpisah dengan minyak (air di bagian bawah dan minyak di bagian atas). Kemudian bagian air (bawah) di buang.
7. Cuci bagian minyak dengan air panas dengan perbandingan 1: 1 (1 bagian air panas, 1 bagian minyak). Aduk merata dan lakukan pemisahan pada tabung pemisah sabun (3) seperti pada cara (e). Lakukan pencucian 3 kali.
8. Minyak yang sudah dicuci, dipanaskan secara perlahan (api kecil) selama 3 – 4 jam, untuk menghilangkan kadar air dalam minyak.
9. Minyak yang telah dipanaskan disaring dengan kain, dinginkan dan masukkan ke dalam botol atau jerigen. Minyak siap digunakan.

Sumber : www.chem-is-try.org
Baca SelengkapnyaTeknologi Penjernihan Minyak Goreng Kelapa Dengan Bahan Galian (Bentonit) Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwrIQl1n

Mengapa Balon Menimbulkan Suara yang Keras Ketika Meledak?


Ketika balon ditiup hingga mengembang, kulitnya meregang dan bentuknya menjadi sangat berbeda dari bentuk aslinya. Pada kondisi ini, balon menahan tekanan energi elastis yang sangat tinggi (energi balon untuk meringkas bentuk aslinya).
Ketika kita menusuk balon yang sudah mengembang dengan jarum, balon meledak dan terpecah menjadi serpihan karet meskipun kebocoran yang dibuat jarum sangatlah kecil. Fenomena ini disebabkan oleh ujung kebocoran yang sangat tajam dan mudah meregang menjadi celah yang panjang.
Ledakan balon ketika kebocoran kecil ini meregang menjadi celah yang panjang membutuhkan sebagian kecil saja energi elastik yang disimpan oleh balon. Sisanya (mungkin sebagian besar)dari energi elastik diubah menjadi energi suara dan energi panas. Semakin kecil energi untuk meledakkan balon (atau memperluas kebocoran menjadi celah), semakin keras suaranya dan panas yang dilepaskan.
Sekarang, suara adalah sebuah getaran. Ketika kebocoran meluas, getaran dihasilkan yang menyebar ke udara sebagai gelombang suara dan mencapai telinga kita (walaupun saya tidak yakin bagaimana getaran tersebut dihasilkan).


Sumber : 
http://www.chem-is-try.org
Baca SelengkapnyaMengapa Balon Menimbulkan Suara yang Keras Ketika Meledak? Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwrIQl1n

Mengapa Air Laut Asin?


Air laut mengandung berbagai material yang menyebabkan rasanya asin. Material ini disebut garam. Satu liter air laut kira-kira mengandung 35 gram kadar garam. Mengapa ada banyak kadar garam di laut?
Teori Pertama
Saat bumi terbentuk, hanya ada bola api yang berputar terus-menerus. Lama-kelamaan bola api itu mendingin, dan sebagai gantinya selama beberapa ratus tahun hujan terus-menerus. Air hujan mengalir ke tempat yang rendah dan membentuk lautan. Saat itu kandungan material asin di dalam tanah larut ke laut, hingga lama-kelamaan air laut menjadi asin.
Teori Kedua
Bumi berbentuk setelah ledakan yang sangat besar, sehingga kadar garam yang terpendam di tanah keluar.
Apapun teorinya, yang pasti air laut terasa asin karena di antara material yang terkandung di dalam bumi, terdapat kandungan garam yang larut ke laut.

Baca SelengkapnyaMengapa Air Laut Asin? Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwrIQl1n

Air Laut: Bahan Bakar Alternatif


Suatu saat nanti, anda mungkin akan melihat banyak anjing laut yang mengelilingi stasiun pengisian bahan bakar. Itu karena bukan aroma bensin, melainkan justru aroma pantai yang lebih terasa di SPBU.
John Kanzius, 63 tahun, telah berhasil menciptakan alternatif bahan bakar dari air laut. Secara kebetulan, teknisi broadcast ini menemukan sesuatu yang menakjubkan. Pada kondisi yang tepat, air laut dapat menyala dengan temperatur yang luar biasa. Dengan sedikit modifikasi, tidak menutup kemungkinan di masa depan, ini dapat di jadikan sebagai alternatif bahan bakar untuk kendaraan bermotor.
Perjalanan Kanzius menjadi inspirasi yang mengejutkan bermula ketika dia di diagnosis menderita leukimia pada tahun 2003. Dihadapkan dengan treatment kemoterapi yang melelahkan, dia memilih mencoba untuk menemukan alternatif yang lebih baik dalam menghancurkan sel-sel kanker. Kemudian di muncul dengan alatRadio Frequency Generator (RFG), sebuah mesin yang menghasilkan gelombang radio dan memancarkannya ke suatu area tertentu. Kanzius menggunakan RFG untuk memanaskan pertikel metal kecil yang dimasukkan ke dalam tumor, menghancurkan sel tumor tanpa merusak sel yang normal.
Tetapi, apa hubungannya antara kanker dengan bahan bakar air laut?
Selama percobaannya dengan RFG, dia menemukan bahwa RFG dapat menyebabkan air yang berada di sekitar test tube mengembun. Jika RFG dapat menyebabkan air mengembun, seharusnya ini dapat juga untuk memisahkan garam dari air laut. Mungkin, ini dapat digunakan untuk men-desalinitasi air laut. Sebuah peribahasa tua tentang laut, "air, air dimana-mana, dan tidak satu tetespun dapat diminum".
Beberapa negara mengalami kekeringan dan sebagian besar rakyatnya menderita kehausan, padahal 70% bumi adalah samudera yang notabene adalah air. Suatu metode yang efektif untuk menghilangkan garam dari air laut dapat menyelamatkan tak terhitung nyawa. Maka tidaklah heran jika Kanzius mencoba alat RFG-nya untuk tujuan desalinitasi air laut.
Pada test pertamanya, dia melihat efek samping yang mengejutkan. Ketika dia arahkan RFG-nya pada tabung yang berisi air laut, air itupun seperti mendidih. Kanzius lalu melakukan test kembali. Saat ini dengan kertas tisue yang terbakar dan menyentuhkannya ke dalam air laut yang sedang di tembak oleh RFG. Dia sangat terkejut, air laut dalam tabung terbakar dan tetap menyala sementara RFG dinyalakan.
Awalnya berita tentang eksperiment ini dianggap suatu kebohongan, tapi setelah para ahli kimia dari Penn State University melakukan percobaan ini, ternyata hal ini memang benar. RFG dapat membakar air laut. Nyala api dapat mencapai 3000 derajat Fanrenheit dan terbakar selama RFG dinyalakan.
Lalu bagaimanakah air laut dapat terbakar? Dan kenapa jika puntung rokok di lemparkan ke dalam laut tidak menyebabkan bumi meledak?
Ini semua berhubungan dengan hidrogen. Dalam keadaan normal, air laut mempunyai komposisi Natrium Klorida (garam) dan Hidrogen, oksigen (air) yang stabil. Gelombang radio dari RFG milik Kanzius mengacaukan kestabilan itu, memutuskan ikatan kimia yang terdapat dalam air laut. Hal ini melepaskan molekul hidrogen yang mudah menguap, dan panas yang keluar dari RFG memicu dan membakarnya dengan cepat.
Jadi akankah di masa depan nanti mobil atau motor memakai air laut daripada bensin?
Kalau teknologi ini benar-benar bisa terealisasi, dunia sudah tidak perlu khawatir lagi dengan krisis energi.

sumber: http://auto.howstuffworks.com/
Baca SelengkapnyaAir Laut: Bahan Bakar Alternatif Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwrIQl1n

Mengapa sangat Berbahaya untuk Mencampur Pemutih Khlorin dengan Pembersih Asam?


Dr. Tohru Takami bersedia menjawab pertanyaan tersebut.
Senyawa utama dalam pemutih khlorin adalah natrium hipoklorit (NaOCl). Senyawa ini menjadi sam hipoklorat (HOCl) dengan adanya hidrolisis:
NaOCl + H2O ↔ HOCl + Na+ + OH-
Sebenarnya khlorin dalam pemutih berada sebagai asam hipoklorat. Senyawa ini sangat oksidatif, sehingga memiliki sifat memutihkan mensterilkan. Khlorin dalam bentuk gas dihasilkan bila asam hipoklorat dicampur dengan asam khlorida. Asam khlorida biasa digunakan dalam pembersih toilet.
HOCl + HCl ↔ H2O + Cl2 ↑
Gas khlorin merusak kulit dan mata. Lebih jauh lagi, terdapat resiko kematian pada konsentrasi yang tinggi. Harap lebih hati-hati bila menggunakan kedua pembersih ini.
Asam hipoklorat juga menghasilkan gas klorin dengan adanya asam lain selain asam khlorida, seperti asam asetat (CH3COOH, cuka)
2HOCl + 2HAc ↔ Cl2↑ + 2H2O + 2Ac- (Ac : CH3COO)
Secara umum, persamaan berikut antara spesies khlor (Cl2, HClO, ClO-).
Cl2 + H2O ↔ HCl + HOCl
HOCl ↔ H+ + OCl-
Rasio spesies khlor ini tergantung pada pH, suhu air dan senyawa yang lain. pH yang sangat mempengaruhi rasio. Rasio gas Cl2 meningkat ektika pH berkurang dan rasio OCl- meningkat bila pH meningkat. (rasio HOCl nyaris 100% pada pH 5, tapi 60% untuk HOCl dan 40% untuk Cl2 pada pH 2.
Rasio kedua HOCl dan ClO- adalah 50% pada pH 
Ion hipoklorit (ClO-) kurang oksidatif bila dibandingkan dengan HOCl. Dilaporkan bahwa sifat antiseptic ClO- adalah 1/80 lebih kecil dari HOCl. Semakin tinggi pH, semakin banyak ClO-, karenanya pemutihan dan efek antiseptic berkurang bila ditambahkan larutan basa, meski gas khlorin tidak dihasilkan pada pH yang tinggi.

Baca SelengkapnyaMengapa sangat Berbahaya untuk Mencampur Pemutih Khlorin dengan Pembersih Asam? Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwrIQl1n

Mengapa Minyak Baik untuk Dijadikan Pelumas?


Jelas sekali, karena minyak sangat licin bro. Akan tetapi apa yang membuatnya zat ini jadi licin?
Semua zat cair sebetulnya licin, tetapi pada tingkat yang berbeda-beda. Lantai atau jalan raya yang basah-maksud saya, basah karena air-menyembunyikan hantu berbahaya yang dapat membuat banyak pengacara mempunyai uang berlimpah untuk membeli busana perlente. Kendatipun demikian air tidak digunakan sebagai pelumas dalam mesin kita karena tidak cukup licin dan dapat menguap.
Minyak jauh lebih licin daripada air karena molekul-molekulnya dapat saling selip dengan mudah daripada molekul-molekul air. Dan karena zat cair pada hakikatnya adalah sekumpulan molekul yang satu sama lain dapat saling selip, Anda tidak usah heran jika zat cair licin, selicin ketika Anda terpeleset oleh kelereng yang berserakan di lantai.
Molekul-molekul air tidak saling selip semudah molekul-molekul minyak karena molekul-molekul itu memiliki kelengketan yang cukup besar–tarik-menarik yang cukup kuat di antara sesama molekul. Tarik-menarik antar molekul yang dialami oleh air terutama karena molekul-molekul itu mengandung atom-atom oksigen, dan kita tahu bahwa air mengandung oksigen, oksigen adalah O dalam rumus kimianya H2O.
Akan tetapi, molekul-molekul minyak,yakni molekul-molekul hidrokarbon yang membentuk bahan kimia peka dan licin berwarna hitam-juga disebut minyak bumi-hanya terdiri atas atom-atom hidrokarbon dan karbon. Tanpa atom oksigen sama sekali. Itu sebabnya mereka tidak terlalu lengket sehingga dapat saling selip dengan lebih mudah. Maka jadilah bahan ini pelumas yang baik.

Baca SelengkapnyaMengapa Minyak Baik untuk Dijadikan Pelumas? Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwrIQl1n

Sumber Bahaya yang Berpotensi Menimbulkan Kecelakaan Kerja


Beberapa sumber bahaya yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dapat dikategorikan sebagai berikut:

Bahan Kimia

Meliputi bahan mudah terbakar, bersifat racun, korosif, tidak stabil, sangat reaktif, dan gas yang berbahaya. Penggunaan senyawa yang bersifat karsinogenik dalam industri maupun laboratorium merupakan problem yang signifikan, baik karena sifatnya yang berbahaya maupun cara yang ditempuh dalam penanganannya. Beberapa langkah yang harus ditempuh dalam penanganan bahan kimia berbahaya meliputi manajemen, cara pengatasan, penyimpanan dan pelabelan, keselamatan di laboratorium, pengendalian dan pengontrolan tempat kerja, dekontaminasi, disposal, prosedur keadaan darurat, kesehatan pribadi para pekerja, dan pelatihan. Bahan kimia dapat menyebabkan kecelakaan melalui pernafasan (seperti gas beracun), serapaan pada  kulit (cairan), atau bahkan tertelan melalui mulut untuk padatan dan cairan.
        Bahan kimia berbahaya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori yaitu, bahan kimia yang eksplosif (oksidator, logam aktif, hidrida, alkil logam, senyawa tidak stabil secara termodinamika, gas yang mudah terbakar, dan uap yang mudah terbakar). Bahan kimia yang korosif (asam anorganik kuat, asam anorganik lemah, asam organik kuat, asam organik lemah, alkil kuat, pengoksidasi, pelarut organik). Bahan kimia yang merusak paru-paru (asbes), bahan kimia beracun, dan bahan kimia karsinogenik (memicu pertumbuhan sel kanker), dan teratogenik.

Bahan-bahan Biologis

Bakteri, jamur, virus, dan parasit merupakan bahan-bahan biologis yang sering digunakan dalam industri maupun dalam skala laboratorium. Pada golongan ini bukan hanya organisme saja, tetapi juga semua bahan biokimia, termasuk di dalamnya gula sederhana, asam amino, dan substrat yang digunakan dalam proses industri. Penanganan dalam penyimpanan, proses, maupun pembuangan bahan biologis ini perlu mendapatkan ketelitian dan kehati-hatian, mengingat gangguan kontaminasi akibat organisme dapat menyebabkan kerusakan sel-sel tubuh yang serius pada karyawan atau tenaga kerja.

Aliran Listrik

Penggunaan peralatan dengan daya yang besar akan memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan kerja. Beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain:
  1. Pemakaian safety switches yang dapat memutus arus listrik jika penggunaan melebihi limit/batas yang ditetapkan oleh alat.
  2. Improvisasi terhadap peralatan listrik harus memperhatikan standar keamanan dari peralatan.
  3. Penggunaan peralatan yang sesuai dengan kondisi kerja sangat diperlukan untuk menghindari kecelakaan kerja.
  4. Berhati-hati dengan air. Jangan pernah meninggalkan perkeraan yang memungkinkan peralatan listrik jatuh atau bersinggungan dengan air. Begitu juga dengan semburan air yang langsung berinteraksi dengan peralatan listrik.
  5. Berhati-hati dalam membangun atau mereparasi peralatan listrik agar tidak membahayakan penguna yang lain dengan cara memberikan keterangan tentang spesifikasi peralatan yang telah direparasi.
  6. Pertimbangan bahwa bahan kimia dapat merusak peralatan listrik maupun isolator sebagai pengaman arus listrik. Sifat korosif dari bahan kimia dapat menyebabkan kerusakan pada komponen listrik.
  7. Perhatikan instalasi listrik jika bekerja pada atmosfer yang mudah meledak. Misalnya pada lemari asam yang digunakan untuk pengendalian gas yang mudah terbakar.
  8. Pengoperasian suhu dari peralatan listrik akan memberikan pengaruh pada bahan isolator listrik. Temperatur sangat rendah menyebabkan isolator akan mudah patah dan rusak. Isolator yang terbuat dari bahan polivinil clorida (PVC) tidak baik digunakan pada suhu di bawah 0 oC. Karet silikon dapat digunakan pada suhu –50 oC. Batas maksimum pengoperasian alat juga penting untuk diperhatikan. Bahan isolator dari polivinil clorida dapat digunakan sampai pada suhu 75 oC, sedangkan karet silikon dapat digunakan sampai pada suhu 150 oC.

Ionisasi Radiasi

Ionisasi radiasi dapat dikeluarkan dari peralatan semacam X-ray difraksi atau radiasi internal yang digunakan oleh material radioaktif yang dapat masuk ke dalam badan manusia melalui pernafasan, atau serapan melalui kulit. Non-ionisasi radiasi seperti ultraviolet, infra merah, frekuensi radio, laser, dan radiasi elektromagnetik dan medan magnet juga harus diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai sumber kecelakaan kerja.

Mekanik

Walaupun industri dan laboratorium moderen lebih didominasi oleh peralatan yang terkontrol oleh komputer, termasuk didalamnya robot pengangkat benda berat, namun demikian kerja mekanik masih harus dilakukan. Pekerjaan mekanik seperti transportasi bahan baku, penggantian peralatan habis pakai, masih harus dilakukan secara manual, sehingga kesalahan prosedur kerja dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Peralatan keselamatan kerja seperti helmet, sarung tangan, sepatu, dan lain-lain perlu mendapatkan perhatian khusus dalam lingkup pekerjaan ini.

Api

Hampir semua laboratorium atau industri menggunakan bahan kimia dalam berbagai variasi penggunaan termsuk proses pembuatan, pemformulaan atau analisis. Cairan mudah terbakar yang sering digunakan dalam laboratorium atau industri  adalah hidrokarbon. Bahan mudah terbakar yang lain misalnya pelarut organik seperti aseton, benzen, butanol, etanol, dietil eter, karbon disulfida, toluena, heksana, dan lain-lain. Para pekerja harus berusaha untuk akrab dan mengerti dengan informasi yang terdapat dalam Material Safety Data Sheets (MSDS). Dokumen MSDS memberikan penjelasan tentang tingkat bahaya dari setiap bahan kimia, termasuk di dalamnya tentang kuantitas bahan yang diperkenankan untuk disimpan secara aman.
Sumber api yang lain dapat berasal dari senyawa yang dapat meledak atau tidak stabil. Banyak senyawa kimia yang mudah meledak sendiri atau mudah meledak jika bereaksi dengan senyawa lain. Senyawa yang tidak stabil harus diberi label pada penyimpanannya. Gas bertekanan juga merupakan sumber kecelakaan kerja akibat terbentuknya atmosfer dari gas yang mudah terbakar.

Suara (kebisingan)

Sumber kecelakaan kerja yang satu ini pada umumnya terjadi pada hampir semua industri, baik industri kecil, menengah, maupun industri besar. Generator pembangkit listrik, instalasi pendingin, atau mesin pembuat vakum, merupakan sekian contoh dari peralatan yang diperlukan dalam industri. Peralatan-peralatan tersebut berpotensi mengeluarkan suara yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan  gangguan kesehatan kerja. Selain angka kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin, para pekerja harus memperhatikan berapa lama mereka bekerja dalam lingkungan tersebut. Pelindung telinga dari kebisingan juga harus diperhatikan untuk menjamin keselamatan kerja.
Sumber : http://www.chem-is-try.org

Baca SelengkapnyaSumber Bahaya yang Berpotensi Menimbulkan Kecelakaan Kerja Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwrIQl1n

Mengubah Emas Menjadi Ungu


Pernahkah terbayang dalam benak Anda bahwa emas –yang biasa digunakan wanita sebagai perhiasan– memiliki warna ungu? Tentu aneh jika hal seperti itu benar-benar terjadi. Namun hal itu bukanlah sulap atau sihir, tetapi memang sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi dalam sebuah eksperimen kimia. Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa perubahan warna suatu materi dapat mengindikasikan terjadinya transfer energi.
Professor Richard Watt dari Brigham Youth University (BYU) bersama mahasiswa-mahasiswa kimianya membuktikan bahwa nanopartikel emas dapat berubah warna menjadi ungu ketika terpapar cahaya matahari yang mengandung gelombang ultraviolet. Tim riset ini menduga bahwa protein yang diinseminasikan ke nanopartikel emas tersebut berpotensi bereaksi dengan cahaya matahari untuk menuai energi – serupa dengan yang terjadi pada klorofil pada proses fotosintesis tumbuhan.
Mereka memulai studinya dengan mencampurkan asam sitrat yang berasal dari jeruk dengan protein. Kemudian mereka melarutkan bubuk nanopartikel emas ke dalam larutan tersebut. Setelah itu mereka meletakkan botol berisi campuran yang berwarna kuning tersebut di bawah sinar matahari langsung dan berharap bahwa larutan yang mengandung emas tersebut berubah warna.
Alasan perubahan warna tersebut adalah: jika larutan tersebut berubah warna menjadi ungu, hal itu menandakan bahwa atom emas (Au) menerima elektron dan menggunakan energi yang diperolehnya untuk membentuk ikatan antar-atom emas dan membentuk nanopartikel berwarna ungu. Dan hal itu juga berarti protein menggunakan cahaya matahari untuk mengaktifkan asam sitrat dan akhirnya memicu terjadinya transfer energi. Ketika cahaya matahari langsung mengenai larutan tersebut selama 20 menit, sebuah lampu merkuri-tungsten yang berenergi tinggi yang terhubung dengan larutan tersebut memiliki performa yang lebih baik.
“Kami mengatur sistemnya, memaparkannya ke cahaya matahari, dan larutannya berubah menjadi ungu,” terang Professor Watt. “Kami tahu kami telah membuktikan konsep tersebut.” Kegemilangan hasil riset ini bukanlah pada perubahan warna emas menjadi ungu, tetapi lebih kepada penggunaan energi dari matahari sebagai energi hijau yang potensial dan tetap menjaga kebersihan lingkungan.
Para peneliti dari BYU ini telah mempublikasikan hasil eksperimen mereka pada Journal of Nanoparticle ResearchLangkah terakhir dari riset ini akan melibatkan interaksi antara protein dengan suatu elektroda yang sesuai untuk mengalirkan energi ke dalam sebuah baterei atau sel bahan bakar. Kimiawan BYU akan bekerjasama dengan Jae-Woo Kim dari National Institute of Aerospace untuk mewujudkan langkah terakhir ini.

Sumber : http://www.chem-is-try.org

Baca SelengkapnyaMengubah Emas Menjadi Ungu Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwrIQl1n

Pestisida yang Ramah Lingkungan


  Saat menyebutkan tanaman rosemary,thyme, cengkeh dan daun mint dan kebanyakan orang berpikir tentang makanan yang lezat. Berpikir lebih luas…berhektar – hektar luasnya. Bumbu – bumbu yang terkenal tersebut sekarang menjadi kunci ampuh dalam organik agrikultur melawan hama penyakit sebagaimana industri mencoba untuk memuaskan permintaan untuk buah – buahan dan sayuran diantara tumbuhnya porsi para consumer akan makanan yang diproduksi dengan cara yang lebih alamiah.


Dalam sebuah studi yang dipresentasikan dalam Pertemuan Nasional American Chemical Society’s ke – 238, para ilmuwan di Kanada melaporkan penelitian baru yang menggembirakan pada apa yang disebut “essential oil pesticides” atau “killer spices.”  Zat – zat tersebut mewakili suatu golongan baru yang relative dari insektisida alamiah yang menunjukkan janji sebagai sebuah alternative yang ramah lingkungan terhadap pestisida konvensional sementara juga memberikan resiko yang sedikit terhadap kesehatan manusia dan hewan, kata para peneliti.
“Kita sedang mengeksplorasi kegunaan potensial pestisida alamiah berdasarkan tanaman minyak  esensial yang umumnya digunakan di makanan dan minuman sebagai bumbu penyedap,” jelas presenter studi yaitu Murray Isman, Ph.D., dari Universitas British Columbia. Pestisida baru tersebut umumnya suatu campuran sejumlah kecil dari dua sampai empat  bumbu – bumbu yang berbeda terlarut dalam air. Beberapa akan manjur sekali membunuh hama sementara yang lainnya mengusir mereka.
Selama beberapa dekade, Isman dan koleganya menguji beberapa tanaman minyak esensial dan menemukan bahwa mereka mempunyai jangkauan luas dari aktifitas insektisidal melawan hama penyakit agrikultur. Beberapa produk komersil yang berbasis bumbu – bumbusekarang sedang digunakan oleh para petani yang telah menunjukkan kesuksesan dalam melindungi tumbuhan strawberry, bayam, dan tumbuhan tomat organic melawan kumbang pengrusak dan mites, kata para peneliti.
“Produk tersebut memperluas terbatasnya gudang senjata zat penumbuh organik untuk bertarung melawan hama penyakit,” jelas Isman. “Mereka hanya sebagian kecil di pasar insektisida, tetapi mereka berkembang dan mendapatkan momentum.”
Beberapa pestisida alamiah memiliki beberapa keuntungan. Tidak seperti pestisida alamiah, “killer spices” tersebut tidak membutuhkan persetujuan pengatur ekstensif dan telah siap tersedia. Keuntungan tambahannya adalah bahwa serangga kelihatannya berkurang untuk meningkatkan resistansinya, kemampuan untuk  mengindahkan toksin yang efektif, kata Isman. Mereka juga lebih aman bagi para pekerja lapanagan, yang beresiko tinggi terhadap  terekspos pestisida, jelas dia.
Namun pestisida baru juga mempunyai kekurangan. Karena tanaman minyak yang esensial cenderung cepat menguap dan terdegradasi sangat cepat pada cahaya matahari, para petani perlu untuk menerapkan pestisida berbasis bumbuterhadap tanaman pangannya lebih sering ketimbang pestisida konvensional. Beberapa tersisa hanya beberapa jam, dibandingkan dengan yang berhari – hari atau bahkan berbulan –bulan bagi pestisida konvensional. Sebagaimana pestisida alamiah tersebut kurang manjur dari pada pestisida konvensional, mereka juga harus diaplikasikan pada konsentrasi yang tinggi  untuk memperoleh tingkat yang dapat diterima dalam mengontrol hama penyakit, kata Isman. Para peneliti sekarang mencari tahu cara membuat pestisida alamiah tahan lebih lama dan lebih manjur, jelas dia.
“Mereka tidak manjur untuk mengontrol hama penaykit,” ingat Isman. Pestisida konvensional masih merupakan  cara yang paling efektif untuk mengontrol  ulat bulu, belalang, kumbang dan serangga besar lainnya pada tanaman pangan komersil, kata dia. “Namun pada suatu saat nanti, akan ada sesuatu yang bagus bagi lingkungan  dan kesehatan manusia.”
“Killer spices” tidak hanya membatasi pada penggunaan agrikultur. Beberapa menunjukkan janji sebagai toksin yang ramah lingkungan dan mengusir nyamuk, lalat, dan kecoa. Tidak seperti semprotan serangga yang konvensional, yang mempunyai bau yang menyengat, pestisida alamiah tersebut cenderung mempunyai aroma yang enak dan pedas. Banyak berisi minyak yang sama dimana digunakan pada produk aromaterapi, termasuk kayu manis dan peppermint, jelas Isman.
Para pabrikan telah sudah mengembangkan produk berbasis bumbu yang dapat mengusir kutu dan tinggi di anjing atau kucing tanpa membahayakan hewan tersebut. Para peneliti sekarang sedang mengeksplorasi penggunaan lain produk berbasis bumbu untuk penggunaan pada buah – buahan dan sayuran untuk menghancurkan mikroba, seperti E. coil dan Salmonella, yang menyebabkan keracunan makanan.
Para ilmuwan lainnya sekarang ini mengeksplorasi lavender, kemangi, bergamot, minyak nilam dan setidaknya lusinan minyak – minyak lainnya dari sumber – sumber tanaman eksotis di Cina yang potensial melawan serangga. Temuan dari studi disediakan oleh EcoSMART, sebuah perusahaan pestisida botanis bermarkas di Alpharetta, Ga.

Baca SelengkapnyaPestisida yang Ramah Lingkungan Read more: http://www.mediabloger.com/2013/03/cara-membuat-auto-readmore-di-blog.html#ixzz2WwrIQl1n